RSS

KONSEP KESEHATAN MENTAL

19 Mar

Image

Apa sih sehat itu?? Pengertian sehat umumnya dimengerti sebagai hal yang bersifat fisik, seperti bebas dari dari penyakit atau cacat tubuh. Ini dipahami karena fisik lebih mudah diamati karena tampak dari luar sehingga lebih mudah disadari oleh individu daripada hal-hal yang bersifat psikis. Padahal yang dimaksud sehat disini adalah kondisi baik secara badaniah (fisik), emosional, intelektual, social, dan spiritual. Yaitu sehat yang tidak hanya secara fisik, namun juga secara pikiran, interaksi social, komunikasi, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan sehat secara mental?? Sehat secara mental itu sendiri dimaknai dengan tidak ada nya gejala-gejala gangguan seperti yang dialami oleh orang yang sakit. Konsep sehat disini ternyata banyak kerancuan sehingga banyak konsep sehat yang tidak jelas. Namun ada beberapa ciri tingkah laku sehat yang menjadi ciri standar untuk menunjukan sehat tidaknya individu tersebut, yaitu :

1. Bertingkah laku menurut norma-norma social yang diakui

2. Mampu mengelola emosi

3. Mampu mengaktualkan potensi-potensi yang dimiliki

4. Dapat mengikuti kebiasaan-kebiasaan social

5. Dapat mengenali risiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah lakunya

6. Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang

7. Mampu belajar dari pengalaman

8. Biasanya bergembira

Memahami konsep kesehatan tidak pernah dapat lepas dari pengaruh sejarah dan kemajuan kebudayaan. Sepanjang sejarah makna sehat dan sakit ternyata juga dipengaruhi oleh peradaban. Pada masa-masa awal, penyakit mental dipahami secara salah atau sering diperlakukan dengan kurang baik, ia menghubungkan kekalutan-kekalutan mental dengan gejala-gejala alam, pengaruh buruk orang lain, atau roh-roh jahat. Saya disini akan sedikit membahas mengenai sejarah singkat perkembangan kesehatan mental.

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

Zaman Prasejarah

Pada zaman prasejarah, manusia purba sering mengalami gangguan-gangguan baik mental maupun fisik seperti arthritis, penyakit pernapasan dan usus. Tetapi manusia purba tersebut benar-benar mengatasi penyakit mental. Ia memandang dan merawatnya sama seperti penyakit fisik. Baginya penyakit mental dan fisik disebabkan oleh penyebab yang sama, yakni roh-roh jahat, halilintar atau mantera-mantera musuh. Jadi, untuk penyakit bauk mental maupun fisik digunakan perawatan-perawatan seperti menggosok, menjilat, menghisap, memotong dan membalut. Atau dengan cara lain yang terpikirkan oleh kawan-kawannya, pemimpin-pemimpinnya, atau ia sendiri tetapi masih diperlakukan secara manusiawi.

Peradaban-peradaban Awal

Diantara peradaban Mesopotamia, Mesir, Yahudi,dll penyakit mental mulai menjadi hal umum. Di Mesopotamia, penyakit mental dihubungkan dengan setan-setan dan pengobatan atau perawatannya dilakukan dengan upacara-upacara agama dan magis agar setan keluar dari tubuh si pasien. Di Mesir, ilmu kedokteran agak lebih maju dan sangat rasional dalam beberapa hal, otak digambarkan untuk pertama kalinya dan diketahui juga peranannya dalam proses mental,dan disana juga dikembangkan terapi untuk pasien berupa rekreasi dan pekerjaan,serta diterapkan juga psikoterapi untuk mengobati penyakit mental. Sedangkan di Yahudi, penyakit mental diartikan sebagai suatu hukuman dari Allah dan perawatannya hanya dengan bertaubat kepada-Nya. Namun secara segi kemanusiaan juga diperhatikan pada masa-masa ini, yaitu didirikannya rumah sakit di Yerusalem untuk para pasien penyakit mental.

Abad Pertengahan ( Abad Gelap)

Pada abad pertengahan, banyak kebiasaan baik yang telah dibina dalam ilmu kedokteran sebelumnya tidak diteruskan,dan hal yang lebih buruk seperti takhayul dan ilmu tentang setan malah dihidupkan kembali. Exorcisme pada abad ini digunakan sebagai perawatan orang yang mengalami gangguan mental. Yaitu dengan menggunakan mantra- mantra dan jimat-jimat.

Zaman Renaisans

Pada zaman ini mungkin digambarkan sebagai “terang dalam kegelapan”. Di Switzerland, mengakui penyebab-penyebab penyakit mental dan menolak adanya demonology. Di Prancis, lebih menggunakan pendekatan yang manusia terhadapa para pasien sakit mental,menganggap bahwa penyakit mental tidak berbeda dengan penyakit fisik.

Abad XVII – Abad XX

Pada abad ini peralihan dan pendekatan demonologis ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Disini dipusatkan pada klasifikasi dan system, suatu hal yang mungkin sama dengan analisis system. Di jerman, sangat menentang kekangan-kekangan yang sangat kejam terhadap para pasien sakit mental dan menyarankan agar memberikan perawatan yang manusiawi terhadap orang-orang gila.

Psikiatri

Pada tahun 1800-an ada usaha untuk menolong para pasien sakit mental tetapi akhir abad itu dokter-dokter belum menemukan penyebab atau pencegahan, penyembuhan, atau perawatan yang efektif terhadap penyakit mental meskipun mereka telah mengklasifikasikan beribu-ribu macam kekalutan mental. Selama abad ke-19 perkembangan dalam kesehatan mental terjadi pada 4 bidang umum : perlakuan terhadap pasien sakit mental yang lebih manusiawi dan rasional oleh masyarakat, langkah-langkah untuk memperbaiki lembaga untuk penyakit mental, perhatian para penulis besar dan filsuf yang berpengaruh terhadap psikologi dan tingkah laku manusia, dan suatu system klasifikasi yang komprehensif bagi kekalutan mental.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Bagaimana kepribadian seseorang dapat berkembang?? Pertanyaan ini mungkin dapat dijelaskan pada aspek perkembangan kepribadian Sigmund Freud dan Erik. H. Erikson.

Freud berpendapat bahwa kepribadian telah cukup terbentuk pada akhir tahun kelima, dan bahwa perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan elaborasi terhadap struktur dasar tersebut. Freud beranggapan bahwa kanak-kanak adalah ayahnya manusia “ The Child is the Father of Man” . Dalam menyelidiki masa anak-anak Freud tidak langsung menyelidiki anak-anak, melainkan kepada ingatan orang dewasa kepada masa kanak-kanaknya. Kepribadian berkembang sebagai respon terhadap empat sumber tegangan pokok, yakni : (1) proses-proses pertumbuhan fisiologis, (2) frustasi-frustasi, (3) konflik-konflik, dan (4) ancaman-ancaman. Akibat dari tegangan yang ditimbulkan oleh sumber-sumber ini, maka sang pribadi terpaksa mempelajari cara baru untuk mereduksi atau mengurangi ketegangan yang dihadapi tersebut. Proses belajar inilah yang dimaksudkan dengan perkembangan kepribadian. Namun ada 2 cara yang digunakan individu untuk belajar mengatasi sumber-sumber tegangan tersebut, yakni : Identifikasi dan Pemindahan. Identifikasi didefinisikan sebagai metode yang digunakan orang untuk mangambil alih cirri-ciri orang lain dan menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dari kepribadiannya sendiri. Kita memilih sebagai model orang-orang yang tampak lebih berhasil dalam memuaskan berbagai kebutuhan daripada kita. Contohnya ketika anak mengidentifikasikan diri dengan orang tua nya karena orang tua nya tampak segala-galanya. Ketika anak bertambah besar, mereka akan menemukan orang-orang lain yang prestasi-prestasi nya lebih sejalan dengan hasrat baru mereka untuk diidentifikasi. Setiap masa cenderung mempunyai tokoh-tokoh identifikasinya sendiri yang khas. Sedangkan pemindahan yang dimaksudkan yaitu menemukan objek yang mampu sedikit mengurangi tegangan yang tak tersalurkan. Namun, suatu objek pengganti jarang dapat memberikan kepuasan atau mereduksikan tegangan seperti objek asli nya, dan semakin objek pengganti itu berbeda dari yang asli, maka semakin sedikit tagangan yang direduksikan.oleh sebab itu terkadang objek yang digunakan untuk mereduksi suka berubah-ubah hingga menemukan yang cocok.

Sedangkan perkembangan kepribadian menurut Erik H. Erikson yaitu perkembangan berlangsung melalui tahap-tahap. Empat tahap pertama terjadi pada masa bayi dan kanak-kanak, tahap kelima pada masa adolescence, dan ketiga tahap terakhir terjadi pada masa dewasa dan usia tua. Apa yang terjadi pada tahap-tahap ini sangat penting bagi kepribadian dewasa dan masing-masing tahap ikut serta dalam membentuk seluruh kepribadian. Tahap – tahap tersebut, yakni :

  • Kepercayaan Dasar Vs Kecurigaan Dasar

Kepercayaan dasar yang paling awal terbentuk selama tahap sensorik-oral dan ditunjukan oleh bayi. Berkat kepercayaan dan keakrabannya dengan orang yang menjalankan fungsi keibuan, maka bayi mampu menerima bahwa orang tersebut mungkin tidak ada untuk sementara waktu.  Melalui kontinuitas pengalaman dengan orang-orang dewasa bayi belajar menggantungkan diri dan percaya pada mereka, tetapi mungkin yang lebih penting ia belajar mempercayai dirinya sendiri. Kepastian semacam itu harus mengalahkan lawan negative dari kepercayaan dasar, yakni kecurigaan dasar.

  • Otonomi Vs Perasaan Malu dan Keragu-raguan

Pada tahap kedua ini anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah kewajiban dan hak nya disertai, apakah pembatasan-pembatasan yang dikenakan pada dirinya. Disini anak akan dituntut untuk bisa mengontrol diri sendiri dan dituntut untuk bisa menerima control dari orang lain dalam lingkungan. Orang dewasa akan membantu mengembangkan sifat otonomi dan akhirnya mandiri. Inilah tahap saat berkembangnya kebebasan pengungkapan diri dan sifat penuh kasih sayang. Rasa mampu mengendalikan diri akan menimbulkan dalam diri anak rasa memiliki kemauan baik dan bangga, sebaliknya rasa kehilangan control diri akan mengakibatkan perasaan malu dan keragu-raguan pada anak.

  • Inisiatif  Vs KesalahaN

Tahap inisiatif adalah suatu masa untuk memperluas penguasaan dan tanggung jawab. Selama pada tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan lebih seimbang secara fisik dan kejiwaaan. Namun bahaya dari tahap ini adalah perasaan bersalah yang dapa menghantui anak karenaterlampau bergairah memikirkan tujuan-tujuan. Anak mulai ingin sekali belajar, dan mampu belajar dengan baik pada tahap ini. Ia berjuang untuk tumbuh dalam arti melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menunjukan prestasi.

  • Kerajinan Vs Inferioritas

Pada tahap ini anak harus belajar mengontrol imajinasi nya yang sangat kaya, dan mulai menempuh pendidikan formal. Ia mengembangkan sikap rajin dan mempelajari ganjaran dari ketekunan dan kerajinan. Bahaya dari tahap ini adalah anak bisa mengembangkan perasaan rendah diri apabila ia tidak berhasil menguasai tugas-tugas yang diberikan oleh guru atau orang tuanya.

  • Identitas Vs Kekacauan Identitas

Selama masa adolescence, individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik. Inilah masa dimana ketika orang ingin menentukan siapakah ia pada saat sekarang dan ingin menjadi apakah ia di masa yang akan datang. Ini adalah masa untuk membuat rencana-rencana karier. Namun selama tahap pembentukan identitas seorang remaja, mungkin merasakan penderitaan akibat kekacauan identitas (peranan). Keadaan ini dapat menyebabkan orang merasa terisolasi, hampa, cemas, dan bimbang.

  • Keintiman Vs Isolasi

Pada tahap ini, orang dewasa awal ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan yang intim dan akrab. Dan mereka membutuhkan seseorang untuk dicintai dan diajak mengadakan hubungan-hubungan seksual, dan dengan siapa seseorang dapat berbagi rasa dalam suatu hubungan kepercayaan. Bahaya nya pada tahap ini adalah kecenderungan menghindari hubungan karena mereka tidak mau melibatkan diri mereka dalam keintiman.

  • Generativitas Vs Stagnasi

Cirri tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan, seperti keturunan, produk-produk, ide-ide. Nilai pemeliharaan berkembang pada tahap ini, terungkap pada kepedulian seseorang pada orang lain, dalam keinginan memberikan perhatian pada mereka yang membutuhkannya serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mereka. Ini tercapai lewat kegiatan membesarkan anak dan mengajar, member contoh dan mengawasi.

  • Integritas Vs Keputusasaan

Tahap terakhir ini disebut integritas. Integritas dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, produk, dan ide-ide dan berhasil dalam menyesuaikan diri dengan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup. Prestasi semacam itulah individu dapat menikmati keuntungan dari ketujuh tahap kehidupan. Dengan bangga mereka memelihara gaya hidupnya sendiri dan mempertahankannya dari berbagai potensi ancaman. Lawan dari integritas yakni keputusasaan dapat memperburuk perasaan bahwa kehidupan ini tak berarti, bahwa ajal sudah dekat, ketakutan dan bahkan keinginan untuk mati.

KEPRIBADIAN SEHAT

Apa itu kepribadian yang sehat?? Bagaimanakan tingkah laku dan pikiran kepribadian yang sehat?? Dapatkan anda menjadi pribadi yang sehat??

Pertanyaan tersebut terus menerus ditanyakan oleh berjuta-juta orang di dunia. Ada cukup banyak definisi tentang kepribadian sehat menurut beberapa tokoh terkenal di dunia seperti yang dikemukakan oleh Gordon Allpot, Carl Rogers, Erich Fromm, Abraham Maslow, Carl Jung, Viktor Frankl, dan Fritz Perls. Namun disini saya akan membahas model kepribadian sehat menurut Gordon Allport dan Carl Rogers.

Menurut Allport, kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Orang yang sehat adalah orang yang bebas dari paksaan-paksaaan masa lampau. Pandangan orang yang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali kepada peristiwa masa kanak-kanak. Allport percaya bahwa hanya melalui pengalaman-pengalaman dan risiko-risiko yang menimbulkan tegangan baru ini, manusia dapat bertumbuh. Mereka yang sehat memiliki kebutuhan akan variasi, sensasi, dan tantangan baru. Mereka akan mencari pengalaman-pengalaman baru agar bisa menjadi pengalaman dalam hidupnya. Namun peran seorang ibu juga tidak kalah penting. Kekurangan perhatian pada anak akan menyebabkan anak menjadi agrerif, suka menuntut,dan pertumbuhan psikologis nya berkurang. Namun jika sejak kecil ia menerima keamanan, kasih sayang yang cukup, pertumbuhan positif akan terjadi sepanjang tingkat munculnya diri dan anak akan membentuk suatu identitas dan gambaran diri. Maka kedepannya pasti akan membentuk suatu kepribadian dewasa yang sehat dan matang.

Berbeda dengan model Allport, menurut Rogers pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi tingkat psikologis kita. Jadi pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak adalah penting. Menurut Rogers syarat utama timbulnya kepribadian yang sehat adalah penerimaan penghargaan positif tanpa syarat pada masa kecil. Ketika seorang ibu memberikan cinta dan kasih sayang nya tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih sayang yang diberikan ibu secara bebas ini akan menjadikan sikap sang anak mengikuti norma lingkungan. Kepribadian yang sehat juga bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses.dan juga suatu proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan suatu ujian, rintangan dan pecutan terus menerus terhadap semua kemampuan seseorang. Kepribadian menurut Rogers juga yakni mereka yang benar-benar adalah diri mereka sendiri, bukan orang lain, bersembunyi di belakang topeng-topeng atau kedok-kedok yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri.

Jadi, apakah itu kepribadian sehat?? Mungkin tidak ada kepribadian yang sedemikian sehat, tidak ada petunjuk untuk kesehatan psikologis yang berlaku sama untuk setiap orang. Kita bukan salinan atau duplikat satu sama lain. Kepribadian manusia bermacam-macam, khas kepribadian kita masing-masing adalah unik.

DAFTAR PUSTAKA

Scultz, Duanne. 1991. Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta : Kanisius

Suryabrata, Sumadi. 1983. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali Pers

Hall, C.S., Lindzey, G. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta : Kanisius, 1993

Siswanto. 2007. Kesehatan Mental : Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta : Andi Yogyakarta

Semium, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta : Kanisius

 
14 Comments

Posted by on March 19, 2012 in Tulisan

 

Tags:

14 responses to “KONSEP KESEHATAN MENTAL

  1. panji.nurahman

    March 19, 2012 at 5:31 PM

    bagus banget nh….

     
    • tsantsan

      March 24, 2012 at 2:36 PM

      makasiii kaka nyaaa😀

       
  2. RianTMC (@RianTMC)

    March 19, 2012 at 5:44 PM

    terimakasih informasinya sangat berguna mba

     
  3. endo

    March 19, 2012 at 5:51 PM

    nice info…..

     
  4. Irina Elvandari

    March 20, 2012 at 12:29 PM

    wah bisa nambah banyak informasi nih dari sini.. nice🙂

     
  5. grace natalia heryes

    March 20, 2012 at 1:29 PM

    i like it🙂

     
  6. dina chairunnisa

    March 20, 2012 at 2:20 PM

    informasi yang sangat berguna😀

     
  7. tsantsan

    March 20, 2012 at 2:42 PM

    terimakasih😀

     
  8. Shakinanina

    March 21, 2012 at 2:18 PM

    sangat menyenangkan mendapatkan pengetahuan yang luar biasa ini😀

     
  9. Azizah Fathia

    March 21, 2012 at 2:23 PM

    wah lengkap pembahasannya🙂 Like This !

     
  10. usman

    March 21, 2012 at 2:33 PM

    yah brarti gw belum termasuk ke dalam tingkah laku yg sehat krn ciri’a belum semua gw raih berarti gw sakit donk?hhe

    thx info’a.

     
  11. septria utami

    March 21, 2012 at 3:51 PM

    like this yooow (y)

     
  12. shanti wulan sari

    March 21, 2012 at 4:02 PM

    informasi yg sangat berguna nih.🙂

     
  13. tutugagas

    March 22, 2012 at 2:26 PM

    wiihiiuuu, mantaplaaah ini nia….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: