RSS

MENGANALISIS SIFAT / KARAKTER MANUSIA BERDASARKAN LETAK GEOGRAFIS

16 Mar

Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam sifat. Dari sifat yang baik sampai sifat yang buruk sekalipun. Di dunia ini terdiri dari berbagai pulau, Negara, dsb. Di Indonesia sendiri terdiri dari berbagai macam daerah dan suku. Tentu sifat mereka juga berbeda-beda. Disini saya akan membahas tentang sifat / karakter manusia berdasarkan letak geografisnya atau tempat tinggalnya.

 

MENGANALISIS SIFAT / KARAKTER MANUSIA BERDASARKAN LETAK GEOGRAFIS


*MASYARAKAT BATAK*

Masyarakat Batak pada umumnya terkenal dengan intonasi suaranya yang tinggi. Karena itu mereka kerap dianggap sebagai pribadi yang temperamental. Emosinya mudah naik, belum lagi nada bicara dan volume suaranya yang tinggi dan sangat terus terang. Menurut Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak. Nada tinggi yang biasa keluar dari mulut orang Medan biasa dijumpai pada orang Batak dari pegunungan, seperti daerah Samosir. “Karena di sana wilayah perkampungannya jauh-jauh, di daerah pegunungan pula. Sehingga mereka harus berteriak-teriak untuk memanggil. Tapi hatinya belum tentu keras, sehingga tidak terpancing emosinya. Apalagi yang sudah terdidik,” tutur Prof. Bungaran.

Hal senada juga dikatakan Dra. Mustika Tarigan. Dosen Psikologi Perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area. Nada tinggi memang menjadi karakter orang Medan, tapi nada tinggi tidak otomatis menjadi indikasi temperamental. “Karakter mereka memang ekspresif. Dan cara mengekspresikannya sendiri lebih ekstrem, jadi terkesan emosional. Tapi tidak semuanya temperamental,” tuturnya. Bagaimana pun menekan amarah itu tidak bagus, kata Dra. Mustika, sedangkan yang benar adalah mengontrol atau mengendalikannya. Ia mengakui bahwa untuk mengontrol atau mengendalikannya tidak mudah, butuh waktu mempelajarinya. “Apa boleh buat, kita harus mengelola emosi. Caranya bisa dengan banyak bergaul atau meminta feedback atau umpan balik dari orang lain. Lalu juga harus menyadari bahwa permasalahan tidak akan selesai dengan luapan emosi,” tutur perempuan yang juga bergerak di LSM Pusat Kajian Perlindungan Anak ini.

Namun factor lingkungan juga mempengaruhi emosi. Contohnya orang Batak yang tinggal di Pulau Jawa tidak seemosional orang Batak yang memang tinggal di Medan “Komunitas atau lingkungan akan berpengaruh terhadap diri seseorang. Sehingga orang Medan yang telah banyak bergaul dengan masyarakat heterogen, emosinya juga akan lebih terkontrol.

 

*MASYARAKAT SEMARANG*

Masyarakat Semarang sendiri terkenal dengan masyarakat paling bahagia di Indonesia. Situasi rileks dan relatif sepi dari pengaruh stres membuat warga Kota Semarang dinobatkan sebagai orang paling bahagia berdasarkan survei indeks manusia Indonesia bahagia (Indonesian Happiness Index/IHI) Frontier Consulting Group (FCG).Dari hasil survei diketahui faktor religiusitas juga berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan. Dalam FCG, warga Semarang memperoleh nilai IHI 48,75. Sementara Kota Makassar menduduki peringkat kedua dengan nilai IHI 47,95, menyusul kemudian Bandung, Surabaya, Jakarta, dan Medan. Chairman FCG Handi Irawan menyatakan, survei yang dilakukan pada enam kota besar cabang FCG selama tiga pekan itu, melibatkan 1.800 responden dengan potensi sampling error 2,5%.

Dia menjelaskan, hasil survei kali ini tidak jauh dari perkiraan bahwa warga Jakarta lebih tidak bahagia dibandingkan warga kota lain. Penyebabnya, dalam menjalani kehidupan warga Jakarta penuh stres serta tidak bisa rileks. “Orang Semarang lebih bisa rileks,juga tidak stres,dan mereka mungkin memiliki interes yang lebih baik.Walaupun memang di Semarang sosial ekonomi relatif lebih rendah dibanding Jakarta,” kata Handi dalam acara pemaparan IHI di Jakarta kemarin. Menurut Handi, tingkat kebahagiaan seseorang berkorelasi dengan tingkat ekspektasi dengan kondisi faktual yang dialami. Jika orang memiliki ambisi terlalu berlebihan sementara fakta kehidupan yang dia jalani jauh di bawah dari yang diinginkan, orang itu akan menjadi sangat tidak bahagia. Sebaliknya, jika seseorang memiliki ekspektasi rendah maka dia akan cenderung merasa lebih bahagia.

“Demikianlah profil orang Semarang, dengan karakter nrimo ternyata lebih banyak orang yang mengaku bahagia meskipun tingkat ekonomi dibandingkan kota lain lebih rendah. Ketimbang penduduk Jakarta dengan tingkat ekonomi lebih tinggi, namun dengan tingginya tuntutan dan stress, ternyata mengakibatkan banyak penduduk Jakarta menjadi tidak bahagia,” ujar Handi.

Handi menambahkan, faktor yang paling memengaruhi kebahagiaan seseorang adalah sosial ekonomi dan pendidikan. Semakin tinggi sosial ekonomi, pendidikannya juga lebih tinggi, memberikan peluang seseorang menjadi lebih bahagia. Namun ternyata masih ada faktor lain, yaitu religiusitas. “Orang yang memiliki iman merasa dekat dengan Tuhan, rata-rata hidupnya bahagia,” paparnya.

Sumber :

http://www.prahastiwikantiari.blogspot.com

http://republikblog.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2011 in Tugas

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: